Solo Traveling, why not?

Β Β  Solo traveling alias pergi sendirian bukanlah hal yang baru untukku. Dari kecil terbiasa mandiri dan mengerjakan berbagai hal sendiri mungkin itulah yang membentuk nyali bepergian sendiri ini makin menggebu gebu terlebih ketika memasuki usia 20 an ini. Hidup di pinggiran Magelang hingga lulus SMA dan hijrah ke ibukota untuk sekolah akhirnya membuat keinginan bepergian ini makin menjadi. Ikut kegiatan pecinta alam, makin sering kelayapan dan semakin berkeinginan untuk bisa melakukan round Β world trip suatu hari nanti. Namanya juga bercita cita ya, dont be afraid to dream big. Kalo kata orang mah When there is a way there is a will. Dan setelah punya pekerjaan tetap dan bisa menghidupi diri sendiri, solo traveling inipun dimulai tepat setelah umur 24. Tuwir ya baru keluar negeri umur segitu, gapapa deh daripada ga kemana mana setelah tiga tahun lalu punya paspor dan gagal ngetrip.

Sebenarnya solo traveling itu bermanfaat banget kok, it gives me more and more things to learn from the things I dont get at school. Mungkin seperti beberapa hal yang akan kusebutkan ini.

1. Lebih bertanggung jawab
Pergi sendiri dan membawa semua resiko baik maupun buruk sendiri membuatku lebih mempertimbangkan aspek keselamatan selama pergi. Alam bawah sadar dan warning sense juga lebih peka ketika pergi sendiri

2. Mengenal diri sendiri lebih baik
Berada di zona nyaman dalam waktu yang lama nyatanya tak cukup baik untuk mengembangkan diri, kurang tantangan dan akhirnya dengan pergi sendiri jadi lebih tau bagaimana sifat dan kebutuhan sendiri lebih baik ketika berada di luar zona nyaman. Kadang perasaan kesepian itu datang sih, tapi kalau ga pernah mencoba how can I know myself better then?

3. Membuka kesempatan berteman lebih banyak
Bandingkan saja, pergi sendiri, berdua, atau berkelompok, pasti ada perbedaan yang terjadi. Ketika bepergian dalam kelompok kecenderungan untuk selalu menggerombol nyatanya justru malah menutup kemungkinan untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang. Sedangkan ketika sendiri lebih membuka kesempatan orang lain untuk lebih mengenal kita. Pergi sendiri membuat keinginan untuk berinteraksi dengan orang baru lebih besar dan membuat kita dengan lebih mudah membuka diri. Siapa yang tahu kan hari ini orang asing besoknya jadi teman hidup? :p

4. Melawan rasa takut
Ketakutan pergi sendiri pasti ada setiap aku ingin pergi, takut tersesat, takut dijahati orang dan banyak ketakutan yang lain selalu menghinggapi. But, it’s the chance to know myself better. Takut tapi tetap pergi dan menikmati perjalanan sendiri, that’s what I often do. Terkadang hal yang beresiko bisa saja terjadi, tapi mah yang namanya bahaya kan bisa menghampiri siapa saja. Yang cuma duduk duduk di tempat pun bisa celaka, bismillah aja lah. Pernah ketika ngetrip pertama awal tahun lalu hampir diseret dan diperdaya ketika ngetrip sendiri di negara tetangga terjadi dan cukup bikin pusing kepala. Untungnya kenal dengan orang lain yang baik hati dan mencegah hal buruk lebih lanjut terjadi.

5. Belajar poblem solving lebih baik dan lebih peka
Ketika hal hal yang tidak diinginkan terjadi, di sinilah kemampuan problem solving dipertanyakan. Bisa nggak mengatasi masalah dengan apa yang bisa dilakukan sendiri. Misalnya ketika sakit demam dalam perjalanan, memaksakan diri untuk berkeliling kota hingga kelelahan jelas tak bagus untuk hari berikutnya. Di sinilah toleransi terhadap diri sendiri diukur, memperhitungkan risk and return.
Sementara itu, bepergian sendiri juga menambah kepekaan terhadap hal hal kecil sekalipun di sekitar. Lebih memperhatikan apapun yang berada di sekitar dan rajin berinteraksi dengan orang. Terkadang orang yang kutemui di bandara atau di manapun di perjalanan justru berakhir baik, kebanyakan lho.

6. Bebas berekspresi
Bebas berekspresi dalam banyak hal bisa dilakukan dalam aspek manapun, baik dari time management, itinerary, maupun gaya berpakaian yang digunakan. Tidak ada orang lain yang terlalu rewel mengaturmu. Bebas memakai pakaian yang ingin dipakai, bebas mau lama atau cepat dalam menuju satu ke tempat lainnya, ataupun mencoret dan menambah list tempat tujuan. I’m free ~~

7. Lebih bersyukur dan berpikir positif
Melewati berbagai destinasi, menempuh berkilo kilo meter perjalanan seorang diri, kangen dengan segala kenyamanan yang dimiliki di tempat tinggal dan ruang kubikel yang kutempati justru membuatku makin bersyukur memiliki apa yang ada saat ini. Terkadang untuk bersyukur, jarak yang jauh memainkan peranan penting dalam hal ini. *penempatan kerja juga salah satunya*

8. Finding mr. Destiny
Berani melakukan perjalanan sendiri bukan berarti kamu mengenaskan ataupun kesepian dan menyedihkan. Ini bisa berarti kesiapan dan pengenalan terhadap diri sendiri sudah didapat, bagaimana melatih kesiapan mental untuk melakukan hal – hal seorang diri. Tak jarang juga para traveler bertemu jodohnya ketika melakukan perjalanan, anggap saja ini pemanasan sebelum settling down dengan seseorang. Meskipun point terakhir ini belum ketemu ‘the one who come and stay permanently’ dan sejauh ini holiday flings sudah cukup menjadi bumbu perjalanan, I will not stop going. Anggap saja ini seperti perjalanan Sun Go Kong mencari kitab suci πŸ˜›


Going solo, duo or group, it doesn’t matter. What’s important of every journey is the meaning of the journey itself. But going solo will teach you things more than you can imagine.

Yang penting stay happy, keep travelling and cherish every moment you get in life lah ya!

 

Cheers,

Travelanggi

 

*ps : tulisannya belom kelar, masih butuh revisi banyak ehehhe