Travelanggi Incredible India Trip (Part 3 Hello High Altitude Khardung La and Camel Ride Nubra)

the lonely camel

Day 4  Monday, April 16th 2018
Setelah selesai sarapan, siap ga siap kami pergi dan mampir ke ATM untuk tarik tunai lagi. Tapi lagi lagi ATM ku nda berfungsi, yang bisa tarik uang ATM Mas Bayu aku kudu piye. Ndaftar jadi nasabah Bayu bank deh akhirnya. Mampir ke Leh Market dan beli oksigen untuk persiapan di ketinggian yang lebih tinggi. I feel soo healthy today yey! Lari ke toko souvenir untuk membeli kalung jimat yang kupengen kemarin. Kami siap menuju tempat lebih tinggi hari ini. Perjalanan menuju Khardung La Pass hari ini tidak terlalu terasa lama karena medan jalan yang berliku dan berganti pemandangan lembah lembah dan gunung berjejer berselimut salju yang bikin bahagia. Bergantian duduk di depan di samping Sonam, driver kami yang tidak ada tandemnya dan menikmati pemandangan Ladakh yang begitu menyenangkan.India ga hanya tentang kota dan panasnya yang nda karuan, ada juga sisi utara yang dingin dan tenang seperti ini. Duduk di mobil berjenis tempo traveler yang membawa kami bersembilan dan sampailah di Khardung La Pass setelah 2 jam perjalanan.

   After finishing breakfast and getting not so ready, we try to find some ATM to take more cash. But again mine didn’t work and Mas Bayu ATM only who could do some cash withdrawal. Stopping by in Leh market while we bought oxygen to be prepared for higher altitude, I feel so healthy today. Running to the souvenirs stall and I bought the small local necklace I’ve been wanting yesterday. We are ready to move to higher place today. Our way to Khardung La Pass doesn’t feel long since the condition of the road and the snowy valleys and mountains view make me happy. We changed seats beside Sonam, our driver who has no tandem, enjoying Ladakh feels so happy. India isn’t about the cities and hot weather like people know, there’s the northern calming area like this. We ride the tempo traveler kind of vehicle and arrive in Khardung La after two hours driving.

the road to pass when going ~

in the middle of the way, pic by @bayuahmadmaulana

jadi kang pijit dulu ketika travelmate mu tak enak badan ~

it’s a long long journey~   

   Khardung La terkenal sebagai jalur yang bisa dilalui motor tertinggi di dunia dengan ketinggian 5.539 mdpl , tapi sayang kami ga menyewa motor karena keterbatasan waktu dan alasan kepraktisan. Eit dan ternyata menurut devilonwheels.com seperti yang ditulis di blog herjourneys.com dijelaskan bahwa Khardung La bukan yang tertinggi lagi. Guide sekaligus driver kami tidak banyak bicara, dia hanya memberi tahu maksimal 10 menit kami berada di luar karena kadar oksigen 20%. Kami segera bergegas menuju tugu yailah tugu banget Nggik untuk berfoto. Namanya foto minta tolong orang ga bener juga nih. Akhirnya foto seadanya dan rekonsiliasi file belum selesai, tunggu file okenya next month ya gaes. Kami bergegas menuju mobil dan melanjutkan perjalanan ke Nubra Valley. Karena sudah semakin siang kami berhenti untuk makan siang di tengah perjalanan. Alhamdulillahnya menu makan kami selain berbumbu kari ada masakan seperti nasi goreng dan mie goreng. Dan pastinya ada chai di kedai ini. Hamdalah banget ya Allah, bahagia seketika.
   Khardung La is famous for being the highest motorable pass in the world in 5.539 meters above sea level height, but we don’t rent a motorcycle due to our limited time. Our guide who also our only driver didn’t talk to much, he only told us to go out only for 10 minutes since we’re outside and the oxygen level is 20%. We’re going to the spot people used to take pictures. Our photos aren’t that good since we ask other people who has no photography sense to take our. Sad 🙁 And our file reconciliantion hasn’t finished yet till now. We rushed our way to Nubra Valley and stop somewhere before to have our lunch since it’s getting late already. Alhamdulillah we found various food beside its curry menu, there’s fried rice and fried noddles too. And of course, Chai! My happiness is so simple to have the lunch.

who doesnt love chai?

us with the local people 🙂

in Khardung La Pass, pic taken by sis Karjo~

   Untuk menuju Nubra Valley dan beberapa wilayah India yang berbatasan dengan negara tetangga diperlukan pengurusan Protected Area Permit (PAP) alias ijin melewati wilayah yang bisa diurus melalui agen lokal. Untuk hal ini kami sudah tidak perlu repot lagi karena pengurusan dan biaya sudah termasuk dari total harga trip kami dengan Travel Himalaya. So let’s just enjoy everything Nothern India provides us. Nubra Valley ini merupakan lembah yang indah di wilayah Ladakh dan berbatasan dengan Pakistan dengan Sungai Shyok mengalir di sepanjang wilayahnya. Sebelum sampai di Snow Leopard Hostel, Nubra Valley di mana kami akan tinggal malam itu, mampirlah kami ke biara yang terbesar dan tertua di Nubra  yaitu Diskit Monastery. Wilayahnya yang berbatasan dengan Tibet memperkuat pengaruh agama Budha dan juga arsitektur bangunan setempat. Di area seberang Diskit Monastery berdiri tegak patung Budha Maitreya setinggi 106 kaki atau 32 meter. Para Biksu pun terlihat satu persatu datang untuk berdoa. Pemandangan yang ada dari ketinggian sangat memanjakan mata. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan, kisanak :”
   We need Protected Area Permit (PAP) to go to Nubra and several places near the border of India and its neighbour countries and we could get the permit with the help of local travel agent. In this case everything related to permit already included in the packageof our trip with Travel Himalaya. So let’s just enjoy everything Nothern India provides us. Nubra Valley is a beautiful valley located in Ladakh which is near Pakistan Border with Shyok River flows along. Before reaching Snow Leopard, Nubra Valley where we gonna stay that night, we stopped by the biggest and oldest Monastery in Nubra, Diskit Monastery. The monastery lies in the border area near Tibet which has Buddhist influencing on their most architectures. Across the Monastery there’s a huge Maitreya Buddha statue in 106 feet tall or 32 meters. The monks were seen one by one to pray. The view from such height amazed me. How can you not be grateful dear human?

we looked so small

us with the monk

    Tiba di gurun pasir yang luas aku segera berlarian ke arah unta karena terlalu excited sementara Wildan dan Mas Bayu mengikuti di belakang. I am so happy to ride the camel though. Akhirnya yang naik unta aku dan Mas Bayu, sedangkan Wildan menunggu dan asik motret. Unta berjenis Baktria ini berpunuk dua dan berasal dari Asia Tengah yang dulunya digunakan untuk perdagangan dari China ke India dan tahan dengan suhu dari -36 hingga 36 derajat Celcius. Camel ride alias naik unta untuk satu putaran ini dikenai biaya 400 Rupee alias 80 ribu Rupiah, murah ya. Oiya, unta ini merupakan salah satu hewan yang dinaiki oleh Nabi pada jaman dahulu, that is why I really wanna try to ride it once. Agak takut sih naik unta, but it’s fine after all. Cuma awkward aja sih, untanya Mas Bayu ndusel ndusel dong kan geli nglihatnya. -___- Ga sopan ini unta.

    Arriving in the desert I run to the camels since I’m so excited while Wildan and Mas Bayu follows. I am so happy to ride the camel though. Finally I ride the camel with Mas Bayu while Wildan is being busy taking photos. The Bactrian camel who has two humps originally from Central Asia which used for trading from China to India and adaptable to -36 to 36 degrees Celcius. Camel ride for one round costs 400 Rupees or around 80 thousands Rupiah. Camel is one of the animal for ride during the prophets era before, that is why I really wanna try to ride it. I’m scared at first but it’s fine after all. Just a little awkward since Mas Bayu’s camel seducing mine. Omg that’s too awkward. -__-

finally naik unta, thanks Wildan for the pic!

camel ride in Nubra

   Ketika kembali ke mobil untuk sholat ashar angin gurun kencang bertiup sementara sisa rombongan kami masih di padang pasir. Ya Allah kasihan matanya kelilipan nanti itu 🙁
   When we get in to the car for ashar prayer the strong wind blows in the desert while the rest of our group are still in the desert. Ya Allah, poor their eyes 🙁

the Valley and the parking lot

Kami sampai di Snow Leopard untuk stay satu malam di sini, bahagianya deh nemu Wifi bisa kabar kabari ke yang udah pada nanya. Padahal mah sapa juga yang nyariin gue gaada yang peduli hiks. Di Snow Leopard ini kami amat sangat bahagia karena stay nya nyaman dan bisa minum Chai banyak banyak. Bersiap untuk pergi pagi besoknya ~

We arrive in Snow Leopard to stay for one night, so happy to get connected using the Wifi to everybody. Who cares sih Nggik hiks. In Snow Leopard we’re se happy to have a nice stay and drink Chai as much as we want. Prepare to go the next day yey~

berasa di Jepang ya sis~~

the night sky in Nubra Valley, so pretty isn’t it?

 

Adios,

Travelanggi