Travelanggi Incredible India Trip (Part 4 Pangong Tso Seeker and the Calm Turtuk Village)

the calming Turtuk village

Day 5 Tuesday, April 17th 2018
Tinggal di hostel yang nyaman dan pagi ini kami membawa sarapan yang sudah dipack, foto dulu dengan formasi lengkap biar afdol sebelum meninggalkan Hunder. Perjalanan hari ini cukup berliku, ya seperti hari biasanya di India utara ini. Perjalanan kami hari ini menuju Pangong Tso sebagai tujuan akhir dengan Turtuk sebagai tujuan awalnya. Turtuk adalah sebuah desa kecil yang berpenduduk Sufi muslim dan menjadi rebutan antara India dan Pakistan di jaman dulu. Turtuk mulai dibuka untuk wisatawan pada tahun 2009 dan sudah mulai semakin dikenal oleh banyak wisatawan dari berbagai negara. Desa ini begitu tenang, tidak seperti Jakarta. Ya iyalah menurut ngana ~
    Staying in this cozy hostel and this morning we bring our breakfast packed, let’s take another complete formation before leaving Hunder. Todays winding road just like another road in nothern India. We’re heading to Pangong Tso our today’s last destination while passing through Turtuk Village. Turtuk is a small village inhabits by Sufi Moslem and being on the territorial seizure between India and Pakistan during the war before. Turtuk started to open up to tourists on 2009 and started to be known by worldwide tourists. This village is so calm unlike Jakarta. Ya it should be la.
Penduduk Turtuk memiliki paras berbeda dari kebanyakan penduduk India, mereka merupakan warga dengan etnis campuran antara Cina, Pakistan dan India. Melihat anak anak berpipi merah ini berlarian ke sana kemari, bahagia rasanya. Kami berkeliling Turtuk selama satu jam untuk melihat lihat pemandangan di desa yang masih bersih dan asri ini, penduduk lokal dengan aktivitas kesehariannya, ada anak anak bermain, pekebun berjalan bersama keledainya dan keseharian mereka lainnya. Tenang kali ya hidup di desa jauh ini, seminggu lumayan buat refresh dari bosannya keseharian di kota :”
    Turtuk inhabitants aren’t like originally India but more mixed race between Cina, Pakistan and India. Seeing the red cheecks kids playing around made me feel happy. We go around Turtuk for an hour to enjoy the clear view, local people with their daily activities, kids playing, and the farmers walking with the donkeys and some other with their daily activities. Life feels so peaceful to see, I think one week should be great to escape from boring city life.
Terletak di antara pegunungan Karakoram, untuk menuju Desa Turtuk kami harus menempuh perjalanan yang bergelombang. Literally bergelombang lho jalannya. Bayangin aja jalan jalan di wilayah remote area negara kita, hampir begitulah adanya. Damainya Turtuk menenangkan dan wajib dikunjungi sih kalo menurutku ketika ke wilayah India utara. Put it on your list yo~
     Located between Karakoram mountains, to reach Turtuk we gotta pass winding roads. Literally long and winding roads. Just imagine how some area in our country has those kinda roads too. The peaceful Turtuk is a must visit destination when you’re going to Nothern India. Put it on your list yo~

   Jalan panjang kami menuju Pangong Tso, berganti ganti DJ yang memainkan lagu. Siapa yang duduk di samping Sonam, he/ she should be the DJ dan aku yang duduk lebih lama di depan hari ini. Nyanyi nyanyi dan tak hentinya berdecak kagum melihat pemandangan menuju Pangong. Perut yang kelaparan ini pun membuat kami berhenti untuk makan siang seperti biasanya, sebelum mencapai destinasi di hari itu.
    Long way to Pangong Tso, we changed the DJ several time. The one who sit beside Sonam should play the music and I am the longest to sit there today. Singing happily while admiring the beautiful nature life on our way to Pangong. This starving stomach bring us to eat somewhere in our way before the final destination of the day.

    Hari hampir gelap ketika kami sampai di Pangong Tso, yah ga cakep deh viewnya di foto. Mendingan besok pagi lebih cerah. Dan kami memutuskan untuk segera ke penginapan kami, Himalayan Wooden Cottage. Pemanas ruangan hanya tersedia di ruang makan dan malam itu kami rebutan mencari kehangatan LOL. Kamar kami berbentuk bedeng dan semi permanen, bisa dibayangkan betapa dinginnya? Sikap doi aja kalah dingin. WKWKKW  Bedengku berada di ujung dan terkena arus angin paling kencang, ditambah tidak ada air di kamar mandi dan semua terasa beku. Satu persatu dari kami mulai tumbang, entah meriang, stamina menurun, mungkin efek ketinggian yang semakin bertambah.
   Day almost ends when we arrive in Pangong Tso, not so good to picture it. We are staying in Himalayan Wooden Cottage. The only heater in the cottage is in the dining area and we’re looking for some warmth. Our semi permanent room feels so cold, can you imagine it? His coldness can’t even beat this cold. WKWKK  My room is in the corner part of the cottage where the wind blows the coldest, there’s no water and everything feels so freezing. One by one our personnels falls sick, fever, body stamina drops maybe the effect of higher altitude.

   Alhamdulillahnya aku malah sehat dibanding ketika pertama datang di Leh sempat drop. Setelah makan malam dan haha hehe dan ketawa tiwi setelah menyaksikan salju turun, kami kembali ke kamar masing masing sebelum listrik mati. Dan tidur malam itu terasa menyiksa dibanding malam sebelumnya, bahkan berpelukan bertiga bareng Mbak Anis dan Mbak Kara seperti malam sebelumnya tidak membuat kami hangat dan tetap gemerutuk sepanjang malam. Well, the coldness :”””
   While me getting healthier than in Leh. After dinner , laughing and watching the snow falls we go back to our room before the electricity turned off. And sleeping that night torturing me even more, even hugging each other with Mbak Anis and Mbak Kara couldn’t get any warmer to us. Well sleeping in the coldness along the night :”

 

Adios,

Travelanggi